Translate

Senin, 11 Desember 2017

[Pendapat Pribadi] Alasan Banyak Orang Masih Menafsirkan Administrasi Dalam Pengertian Sempit



Masih banyak orang yang memahami bahwa Administrasi adalah pekerjaan surat menyurat, pencatatan informasi, dan pengarsipan, serta aktivitas Tata Usaha. Pemahaman tersebut sangat sempit. Padahal sesungguhnya Administrasi dalam pengertian yang luas adalah kegiatan kerjasama yang diakukan oleh sekelompok orang secara teratur dan terarah berdasarkan pembagian tugas, sesuai dengan kesepakatan bersama yang telah disetujui sebelumnya, hingga tercapainya tujuan yang diinginkan.

Mengapa pemahaman sempit seperti itu masih banyak terjadi di lingkungan kita sendiri ?

Jawab :

Menurut saya, kesalahpahaman terhadap arti administrasi dalam masyarakat dikarenakan kurangnya pemahaman yang mendalam terhadap istilah administrasi, sebagai akibat dari ‘missing link’, atau terputusnya ‘rantai’ pengetahuan yang sebenarnya tentang administrasi. Hal ini dapat terjadi karena kurang beredarnya sumber-sumber yang relevan tentang administrasi di dalam lingkup masyarakat, seperti buku, jurnal, dan sebagainya. Inilah yang membentuk mindset masyarakat untuk memandang administrasi dari pengertian sempitnya saja. Media massa pun ‘membantu’ menyempitkan perspektif masyarakat dalam memandang administrasi, yang akan berakibat pada kesalahpahaman dalam mengartikan administrasi.

[Sepenggal Kisah] Contoh Mobilisasi Struktur Sosial Secara Vertikal Dalam Lingkup Keluarga



Salah satu contoh mobilitas struktur sosial secara vertikal yang terjadi dalam lingkup keluarga saya adalah kisah hidup ayah kandung saya sendiri. Alkisah, ayah saya adalah seorang anak pedagang yang tinggal di kampung pedalaman di daerah Lampung Selatan. Ayah saya adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Saudara-saudarnya yang lebih tua, hanya sekolah sampai lulusan SMP dan SMA, dan melanjutkan bekerja di kebun sebagai petani dan pengelola. Namun, ayah saya tidak ingin bernasib sama dengan saudara-saudaranya. Ayah saya begitu giat belajar, berharap nasibnya dapat berubah suatu saat nanti. Kakek dan nenek saya pun mendukung cita-cita dan keinginan ayah saya. Mereka bekerja keras untuk membiayai sekolah ayah saya.
            
Saat teman-teman ayah saya banyak yang senang bermain-main di lapangan, ayah saya sibuk membaca buku pelajarannya. Ayah saya sekolah SD dari jam 8 sampai jam 11 siang, lalu dilanjutkan dengan sekolah madrasah dan belajar mengaji hingga jam 4 sore. Setelah itu, barulah ayah saya punya waktu untuk bermain dengan teman temannya. Aktivitas tersebut terus berulang hingga ayah saya SMP.
            
Setelah lulus SMP, dengan modal nekat, kepercayaan diri, serta uang yang jumlahnya tidak seberapa, ayah saya mencoba merantau ke jawa. Singkat cerita, akhirnya ayah saya dapat bersekolah di SMAN 1 Kota Serang, Banten. Setelah lulus, ayah saya melanjutkan kuliah di AKPI Kiaracondong, Bandung. Ayah saya mengambil program D3 Keuangan Perbankan. Disanalah ayah saya kemudian bertemu dengan ibu saya.
            
Setelah lulus dari AKPI, ayah saya mencoba melamar pekerjaan di berbagai perusahaan di Cilegon. Sambil menunggu hasil lamaran, ayah saya bekerja sebagai kenek angkot. Akhirnya, ayah saya bekerja di salah satu hotel di Anyer, sebagai akuntan. Tidak lama bekerja disana, ayah saya kemudian mendapat tawaran bekerja di Bank Danamon. Setelah bertahun-tahun bekerja di Danamon, ayah saya akhirnya mendapat tawaran bekerja di Bank BRI. Hingga saat ini, ayah saya telah menjadi Manajer Pembiayaan Mikro di Bank BRI Syariah.
             


Dari contoh kisah ayah saya, dapat saya simpulkan bahwa mobilitas struktur sosial dari bawah ke atas, dapat terjadi dengan semangat menempuh pendidikan. Dengan pendidikan, status dan struktur sosial seseorang dapat berubah drastis.  

[Pendapat Pribadi] Alasan Kurang Tereksposnya Ilmu Administrasi Zaman Kejayaan Islam Pada Saat Ini



Pada zaman modern ini, ilmu Administrasi sudah berkembang pesat dan ilmunya pun sudah digunakan dan dipelajari di seluruh dunia. Banyak sekali buku-buku, jurnal, tesis, literatur, dan sumber-sumber valid lainnya yang membahas tentang perkembangan ilmu administrasi. Dari yang awalnya hanya dianggap sebagai ‘seni’, hingga sampai saat ini telah menjadi salah satu disiplin ilmu yang konkret. Namun, dari banyaknya sumber yang membahas tentang perkembangan ilmu administrasi, hanya sedikit yang membahas tentang perkembangan ilmu administrasi di zaman kejayaan Islam. Padahal, saat itu (zaman kelahiran dan kejayaan Islam), proses administrasi sudah mulai berkembang pesat, dan bahkan sudah mendekati ilmu administrasi modern yang dipakai saat ini. Mulai dari zaman Khulafaur Rasyidin hingga kejayaan Bani Abbasiyah (Dinasti Abbasiyah, dari abad 8 – 13 Masehi), proses administrasi secara bertahap sudah berkembang sangat pesat. Namun, pada zaman modern ini, ilmu administrasi yang diembangkan sejak zaman kejayaan Islam, kurang terekspos dan bahkan sudah mulai hilang. Ilmu administrasi yang berkembang pada zaman kejayaan Islam, hanya bisa dipelajari dari sumber (buku) yang sangat terbatas, dan hanya dipelajari di instansi pendidikan tertentu. Padahal, menurut saya, ilmu administrasi zaman kejayaan Islam sama kompleksnya dengan ilmu administrasi modern yang dipelopori oleh F.W.Taylor dan Henry Fayol.
            
 Menurut saya, kurang tereksposnya ilmu administrasi zaman kejayaan Islam pada saat ini adalah karena keterbatasan buku dan literatur yang menjadi sumbernya. Banyak sumber-sumber yang hilang dan rusak sehingga dalam ilmu administrasi zaman Islam terjadi missing link, yang menyebabkan kurang lengkap dan kurang validnya administrasi zaman Islam sebagai ilmu. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa buku-buku penting (yang ditulis oleh ilmuwan muslim) pada saat perang Salib (1095 – 1291 Masehi), atau lebih tepatnya pada saat ‘Pengepungan Baghdad’ pada tahun 1258 Masehi. Pada saat itu, perpustakaan pusat umat Islam (di Irak) dihancurkan, sebagai efek dari kekalahan pasukan umat Islam. Pada saat itu juga disebut sebagai awal kehancuran Dinasti Abbasiyah. Sebagian besar buku-buku dibakar dan ditenggelamkan di laut, dan mungkin saja buku yang membahas tentang administrasi zaman kejayaan Islam pun ikut dihancurkan. Sehingga, ilmu administrasi zaman kejayaan Islam menjadi missing link, dan tidak valid sebagai bagian dari ilmu administrasi modern saat ini.

Pengertian Administrasi dan Pentingnya Belajar Administrasi



Administrasi dalam arti sempit merupakan penyusunan dan pencatatan data dan informasi secara sistematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain. (Drs. Ulbert Silalahi, M.A., dalam bukunya ‘Studi tentang Ilmu Administrasi’, 1989.)

Dalam arti yang sempit bahkan pengertian sehari-hari, maka administrasi artinya adalah tata usaha. Tata usaha ialah suatu pekerjaan yang sifatnya mengatur segala sesuatu pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan tulis-menulis, surat-menyurat dan mencatat / membukukan setiap perubahan atau kejadian yang terjadi di dalam organisasi. (Harris Muda Nasution, dalam bukunya ‘Kursus Pengetahuan Administrasi’, 1962.)

Administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan keputusan-keputusan yang telah diambil dan diselenggarakan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. (Siagian, dalam bukunya ‘Administrasi Pembangunan Konsep, Dimensi, dan Strategi’, 2001.)

Administrasi adalah sebagai keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. (Iagin, dalam buku ‘Filsafat Administrasi’, 2006.)

Administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap perkerjaan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam kerjasamanya utuk mencapaai tujuan tersebut. (Drs. The Liang Gie, dalam bukunya ‘Administrasi Perkantoran Modern’, 1991.)

Administrasi adalah satu keseluruan proses penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang dasarkan paada rasio-rasio tertentu, oleh dua orang atau lebih dalam rangka pencapaian satu tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan menggunakan sarana dan prasarana tertentu pula. (Prof. Dr. Sandang P. Sugio Mpa., dalam buku ‘Falsafat Administrasi’, 2000.)

Kesimpulan :  Administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan keputusan serta penataan dan pengelolaan pekerjaan yang telah disepakati sebelumnya oleh dua orang atau lebih yang bekerjasama atas dasar rasionalitas, untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

Administrasi dalam arti sempit, dapat diartikan sebagai Tata Usaha, yaitu pekerjaan yang berhubungan dengan tulis-menulis, surat-menyurat dan pengarsipan setiap kejadian didalam organisasi.

Lalu, pentingkah kita belajar ilmu administrasi ?

Menurut saya, belajar ilmu administrasi baik hanya sekadar ilmu dasar maupun ilmu tingkat ahli (spesialis), adalah sesuatu yang penting dan harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin berkecimpung dalam dunia sosial-politik dan organisasi di dalam masyarakat. Pentingnya ilmu administrasi dikarenakan pada setiap organisasi (wadah administrasi), sangat diperlukan keahlian administrasi untuk mengelola dan mengatur perencanaan dan kegiatan kerjasama antar anggota organisasi, agar tujuan dari organisasi tersebut dapat berjalan lurus dan sebagaimana mestinya. Tanpa adanya ilmu administrasi, suatu organisasi tidak akan berjalan baik dikarenakan tidak adanya pengelolaan dan kerjasama yang baik, sehingga dampaknya adalah tidak berjalannya tujuan organisasi, yang akan berakhir pada kehancuran organisasi tersebut (bubar). Organisasi yang dimaksud bukan hanya organisasi tingkat pemerintah pusat dan daerah. Pentingnya ilmu administrasi berlaku bagi semua organisasi, bahkan sampai organisasi tingkat terkecil sekalipun, yaitu keluarga.

Prajudi Atmosudirjo, dalam bukunya yang berjudul ‘Dasar-Dasar Administrasi Manajemen dan Office Manajemen’ seri original yang diterbitkan tahun 1980, menyebutkan ada lima poin tentang pentingnya studi dan peranan administrasi, yaitu :

1. Dalam kehidupan masyarakat modern terjadi perubahan pola kehidupan di segala bidang menjadi pola kehidupan berdasarkan kerja sama keorganisasian.

2. Pola kehidupan keorganisasian ini berkaitan dengan pola kehidupan modern dan cara berpikir serta bekerja secara rasional.

3. Cara berpikir dan bekerja secara rasional ini berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

4. Cara berpikir modern dan bekerja secara rasional dimaksudkan untuk menghasilkan keefektifan dan keefisienan pencapaian tujuan.

5. Berpikir dan bekerja secara rasional dengan teknologi modern dan dengan pola kehidupan berorganisasi modern ke arah efisiensi dan efektivitas memerlukan administrasi.